Penerapan 5 hari dalam seminggu dan juga sabtu-minggu

Penerapan
waktu 8 jam dalam sehari dalam 5 hari seminggu di Indonesia adalah kebijakan
mentri pendidikan dan kebudayaan, alasan dari MenDikBud membuat kebijakan
tersebut adalah memberi waktu anak-anak untuk bisa berlibur sabtu-minggu,
bersama orang tua mereka. Selain itu, meringankan tugas orang tua yang bekerja
dan khususnya di perkotaan dalam mengawasi anak-anaknya. Alasan lainnya adalah
persoalan beban kerja guru yang mengajar minimal 24 jam dalam seminggu. “tugas
pokok guru tidak hanya mengajar di kelas 24 jam (seminggu). Banyak  tugas guru yang tidak di akui .jadi jika di
kedepankan kinerja guru sebagaimana standart yang berlaku bagi ASN (aparatur
sipil negara), maka sekolah harus menyesuaikan sekolah jadi 5 hari seperti 5
hari kerja. Yang ada di benak masyarakat soal proses belajar mengajar selama 8
jam. Padahal, yang di maksud proses belajar 8 jam tidak hanya menerima
pelajaran yang dari buku teks, tetapi juga menerima pendidikan karakter. 1MenDikBud
menjelaskan, transfer pengetahuan dari buku teks hanya 30 persen. Sedangkan
60-70 persen sisanya akan diisi dengan pendidikan karakter. Ada beberapa
karakter yang hendak di bentuk. Diantaranya, ada beberapa yang menjadi
prioritas dari 18 karakter, yakni jujur, pantang menyerah, toleran, dan gotong
royong. Jadi 8 jam itu tidak berarti anak ada di kelas tetapi bisa di
lingkungan sekitar sekolah bahkan di luar sekolah, yang penting semua jadi
tanggung jawab sekolah dimanapun anak belajar.Terhadap
kebijakan tersebut saya berpandangan pro karena pemerintah menerapkan ada dua
hari break buat hari tenang. Siswa juga pastinya membutuhkan waktu buat hari
tenang buat istirahat dari 8 jam dalam sehari 5 hari dalam seminggu dan juga
sabtu-minggu dapat di manfaat kan siswa untuk berkumpul bersama keluarga.
Kendalanya masyarakat menilai bahwa siswa belajar full selama 8 jam di dalam
kelas, dan teryata tidak . hanya sekitaran 30 persen siswa belajar teks dari
buku di dalam kelas, sisanya waktunya di manfaatkan untuk pendidikan karakter,
ekstrakulikuler dan sebagainya. Pandangan saya di dalam hal ini jam belajar yang
di lakukan 8 jam perhari 5 hari dalam seminggu siswa full tetapi fokus terhadap
pembelajaran tertentu. Jadi, pelajaran tidak akan menekan siswa malahan siswa
lebih merasa lebih enak, karena setiap murid menjalani apa yang jadi bidangnya.
Yang salah di Indonesia bukan sistem “full day school” tetapi sistem yang
mengharuskan murid mengambil semua pelajaran membuat tidak bisa fokus dan
tertekan karena itu.