BAB ini kawat gigi popular dikalangan remaja. Selain

BAB
I

PENDAHULUAN

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

A.   
Latar Belakang

Dalam perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi pada bidang kesehatan, pemeriksaan radiologi merupakan
salah satu sarana yang digunakan sebagai acuan diagnosa dalam bidang kedokteran.
Dalam bidang pemeriksaan radiologi dibagi menjadi dua, yaitu pemeriksaan
radiologi konvensional dan pemeriksaan radiologi imaging.(Purwanegara &
Iskandar, 2006).

Dalam pemanfaatannya,
radiologi memanfaatkan sinar-x dalam menghasilkan gambaran anatomi dan
fisiologi manusia.(Suyatno, 2008) . Sinar-x merupakan energi yang termasuk dalam
spektrum elektromagnetik(Hubar, 2017).

Pemeriksaan radiologi menjadi
salah satu penunjang dalam bidang kedokteran gigi. Periksaan radiologi sendiri
berfungsi untuk mendiagnosis kelainan seperti penyakit dan luka, jumlah,
susunan, posisi gigi dan tulang rahang dan masih banyak lagi (Pratiwi, 2009).

Dengan perkembangan yang
terjadi dalam bidang radiologi, pesawat panoramik menjadi multi fungsi, salah
satunya adalah pemeriksaan cephalometri. analisa
cephalometri telah digunakan sebagai
prosedur diagnostik rutin di bidang orthodontics
selama lebih dari 60 tahun menggunakan pengukuran sudut dan jarak pada
pemeriksaan radiografi cephalography lateral(Daskalaki, 2009).

Kawat gigi di era lampau
dipandang sebagai hal yang aneh dan merepotkan, namun saat ini kawat gigi
popular dikalangan remaja. Selain memiliki fungsi memperbaiki tekstur rahang
maupun gigi, saat ini kawat gigi juga berfungsi sebagai hiasan di wajah untuk mendukung
penampilan seseorang (Soebroto, 2009).

Pemeriksaan cephalometri
dilakukan dalam proyeksi lateral dan posterior anterior (PA). hasil gambaran
yang dihasilkan digunakan untuk mengitung dan memonitor pertumbuhan
tulang-tulang wajah dan gigi geligi. Pemeriksaan proyeksi lateral digunakan
untuk. Pemeriksaan ini menggambarkan soft tissue nasofaring, sinus paranasal,
palatum, dan sella turcica. Proyeksi posterior-anterior (PA) dilakukan untuk
melihan kemiringan tulang wajah dan untuk Analisa sebelum dan sesudah
dilakukannya tindakan orthognathic (Karjodkar, 2011).

Seiring perkembangan zaman,
pemeriksaan cephalometri telah memanfaatkan sistem computed radiography. Computed
radiography (CR) merupakan proses digitalisasi gambar yang menggunakan Photostimulable Plate untuk akuisisi
hasil gambaran. Pada dasarnya sistem kerja CR 
sama dengan radiografi konvensional, hannya saja penerima gambar yang
digunakan ialah Photostimulable Phospor
Plate sebagai imaging plate (IP)(Fahmi, Firdausi, & Budi, 2008). Dalam penggunaan 
computed radiography tidak
membutuhkan modifikasi pada pesawat hannya saja membutuhkan alat penunjang
tambahan seperti image reader, printer, dan
computer workstation (Johnston, 2016).

RS Siloam TB Simatupang
melakukan pemeriksaan cephalometri menggunakan pesawat CR cephalometri.
Proyeksi pemeriksaan yang digunakan hannya proproyeksi lateral. Pasien
diposisikan berdiri true lateral dengan bagian kepala sebelah kiri berada dekat
dengan kaset. Pemeriksaan ini dilakukan untuk melihat soft tissue dan gambaran
tulang yang berguna sebgai dasar perhitungan orthodontic.

 

B.    
Rumusan
Masalah

Berdasarkan
latar belakang yang telah dijabarkan diatas, maka didapatkan rumusan masalah
sebagai berikut ;

Bagaimana
prosedur pemeriksaan cephalometri dengan menggunakan Computed Radiography di RS Siloam TB Simatupang?

 

 

C.     Tujuan
Penelitian

 

1.      Tujuan
Umum

Mendeskripsikan prosedur  pemeriksaan cephalometri menggunakan computed
radiography di RS Siloam TB Simatupang.

2.      Tujuan
khusus

a.       Untuk
mengetahui prosedur pemeriksaan cephalometri menggunakan computed
radiography di RS Siloam T.B Simatupang.

b.      Untuk
mengetahui komponen-komponen yang digunakan pada
pemeriksaan cephalometri menggunakan computed
radiography.

D.    Manfaat
penelitian

Manfaat
penelitian ini terdiri dari ;

1.      Secara
Teoritis

Untuk
meningkatkan pengetahuan tentang pemeriksaan cephalometri dengan mungganakan
teknologi computed radiography.

2.      Secara
Praktis

Dapat
dijadikan bahan masukan dalam penatalaksanaan pemeriksaan cephalometri agar
mendapatkan hasil gambaran radiografi yang optimal.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB
II

KAJIAN
TEORI DAN KERANGKA KONSEP

 

A.      Kajian
Teori

1.       
Anatomi Wajah

a.        
Tulang Tulang wajah

Struktur
tulang-tulang wajah disatukan oleh sutura yang tidak dapat bergerak, kecuali os mandibula

1)       
Tulang Hidung (os nasal)

Tulang hidung berfungsi sebagai penyangga hidung yang
terhubung dengan septum nasal. adapun
panjang tulang hidung setiap individu dengan individu lain memiliki ukuran yang
bervariasi. Os nasal terdiri dari dua
bagian tulang yang saking berdampingan dan  dihubungkan oleh fissura internasalis. Tulang
hidung berhubungan dengan beberapa tulang disekitarnya, diantaranya os frontale yang dihubungkan oleh sutura
frontonatalis,

2)       
Tulang Palatum

Tulang palatum terdiri dari dua bagian yaitu palatum
keras yang disusun oleh tajuk-tajuk palatum dan wpalatum lunak yang merupakan
lipatan menggantung yang disusun oleh fibrus dan selaput lendir. Tulang palatum
memiliki fungsi sebagai pelindung organ dan pembentukan dasar dari rongga mata.

Gambar 1. Tulang Palatum (Netter, 2011)

 

3)       
Tulang Pipi (os zygomaticum)

Os Zygomatic membentuk permukaan muka yang menonjol. Os zygomatic memiliki tepi lateral,
medial, posterior, dan dua buah processus
yaitu processus frontalis dan processus temporalis. Dikalangan umum,
tulang zygomatic dikenal juga sebagai tulang pipi. Zygomatic terdiri dari empat
pembatasan, yaitu pembatasan orbital, pembatasan rahang, pembatasan temporal,
dan pembatasan zygomatic.

4)       
Tulang Lakrimal

Tulang lakrimal juga biasa disebut tulang air mata
merupakan tulang terkecil dan paling rapuh diantar tulang-tulang pada wajah
lainnya. Tulang ini terletak pada dinding medial rongga mata. Fungsi utama
tulang lakrimal ialah membentuk bagian dari soket mata. Permukaan tulang
lakrimal adalah permukaan orbital dan permukaan hidung.  

5)       
Tulang Vomer

Tulang vomer adalah tulang tipis berbentuk segi empat
yang terletak pada dasar rongga hidung dan merupakan bagian dari septum antara
lobang hidung. Vomer berbatasan langsung dengan tulang palatin, maxilla
ethmoid, dan septal cartilage.

6)       
Konka Nasal inferior

Konka nasal inferior
adalah tulang lempeng yang tipis yang terletak pada bagian medial dari dinding
lateral hidung dan membentuk sebagian dinding medial atrium maxilla.

7)       
Tulang Rahang
Bawah

Mandibula merupakan pembentuk rahang bawah. Tulang ini berbentuk
tapal kuda yang membentang secara horizontalS. Mandibula terdiri dari bagian
badan (corpus), yaitu bagian badan
tengah yang melengkung secara horizontal yang membentuk dagu dan terdapat gigi
bagian bawah serta terdapat dua bagian tegak yaitu ramus.

Gambar 2. Tulang Rahang Bawah (Netter, 2011)

8)       
Tulang Rahang Atas

Maxilla merupakan tulang yang membentuk kerangka wajah dan
rahang atas. Setiap maxilla menyatu
dan membentuk badan dan 4 processu, yaitu
 frontal, alveolar, palatin, dan processus zygomaticum. Maxilla merupakan
tempat melekatnya gigi geligi rahang atas.

Gambar 3. Tulang Rahang Atas Tampak Lateral (Netter, 2011)

 

b. Anatomi Sinus
Paranasal

            Sinus
paranasal adalah rongga yang terdapat diantara tulang-tulang tertentu pada
kepala. Rongga ini terhubung dengan cavum
nasalis dan sejajar dengan membran mucosa. Terdapat empat jenis sinus,
yaitu sinus frontalis yang berada di dekat tulang frontal, sinus etmoidalis
yang berada di dekat tulang etmoid, sinus spenoidalis yang berada di dekat
tulang spenoid, dan sinus maxillaris yang berada di dekat tulang maxilla.

c.    Anatomi Gigi geligi

            Gigi
geligi manusia merupakan jenis heterodontal,
yaitu setiap gigi memiliki berbagai bentuk dan fungsi. Terdapat 4 jenis gigi
manusia, yaitu ;

1)       
Incisivus

Incisivus disebut juga gigi seri. Berfungsi sebagai