A. anak usia dini, yang disampaikan dapat berupa

A.      
Latar
Belakang

Pendidikan
anak usia dini (early child educatioan/PAUD) adalah masa yang paling optimal
untuk berkembang. Pada masa ini sangat penting dilaksanakan pendidikan secara
bersama sebagai dasar pembentukan kepribadian manusia dewasa secara utuh, mulai
dari pembentukan karakter, tauladan berbuat baik, penanaman budi pekerti luhur,
kecerdasan, keterampilan dan pengenalan terhadap Tuhan pencipta alam semesta.
Pendidikan anak usia dini tidak hanya pada penguasaan calistung saja,
tetapi harus lebih tinggi dari itu dengan mengembangkan semangat sebagai penemu
cilik, mengembangkan kreativitas, memiliki percaya diri, kemampuan
berinteraksi, dan mengaplikasikan pemahaman tentang nilai-nilai kebaikan.

Metode bercerita merupakan metode
pembelajaran yang dilakukan untuk mempermudah penyampaian sebuah pesan kepada
anak usia dini. Dengan menggunakan metode bercerita diharapkan anak usia dini
lebih mudah memahami dan menyerap segala sesuatu hal positif yang telah
disampaikan dengan suasana yang menyenangkan serta sekaligus belajar tentang
beberapa hal baru. Masa
usia dini merupakan rentangan usia peka, dimana dalam masa tersebut potensi
anak akan berkembang sesuai dengan lingkungan tempat anak berada. Oleh karena
itu, tugas guru dan orang tua untuk mengembangkan potensi anak seoptimal
mungkin dengan cara menyediakan lingkungan berupa kegiatan yang sesuai dengan
perkembangan anak. Salah satu potensi anak yang sangat perlu diperhatikan
adalah potensi penalarannya terhadap moral. Penalaran anak terhadap moral akan
mempengaruhi pembentukan karakternya.

Pengembangan karakter pada anak
usia dini yang didasari dengan pengembangan nilai dan sikap anak dapat
menggunakan kegiatan bercerita yang memungkinkan terbentuknya kebiasaan-
kebiasaan yang didasari oleh nilai-nilai agama, dan moralitas agar anak dapat
menjalani hidup sesuai dengan norma yang dianut masyarakat. Metode Bercerita
merupakan metode yang banyak digunakan oleh guru anak usia dini, yang
disampaikan dapat berupa pesan, informasi atau sebuah dongeng yang untuk
didengarkan dengan cara yang menyenangkan.

Cerita digital dapat didefinisikan sebagai
pengisahan cerita yang dilakukan dengan menggunakan teknologi digital sebagai
media atau metode ekspresi, khususnya dengan menggunakan media digital di
lingkungan jaringan komputer. Pengisahan cerita digital mencakup karakteristik
utama ini: Fleksibilitas, universalitas, interaktivitas dan pembentukan
komunitas). Fleksibilitas dalam cerita digital mengacu pada penciptaan cerita
non linier dengan menggunakan teknologi media digital. Universalitas berarti
siapapun bisa menjadi penghasil cerita digital, karena tersedianya komputer dan
perangkat lunak yang mudah digunakan. Interaktivitas mengacu pada partisipasi
pengguna dalam pengembangan cerita dengan menggunakan karakteristik media yang
bisa saling dipertukarkan.

Mendongeng atau
storytelling merupakan keterampilan berbahasa lisan yang bersifat
produktif, sehigga menjadi bagian dari keterampilan berbicara. Keterampilan ini
lah yang dapat menumbuhkembangkan keterampilan berbicara sebagai keterampilan
berkomunikasi dan seni. Kegitan ini dapat dilakukan oleh guru sebagai pemimpin
di hadapan para murid secara langsung baik dengan cara bercerita, beryanyikan
dengan musik atau tanpa musik, dengan gambar atau dengan alat peraga lain yang
dapat di pelajari oleh guru secara lisan atau visual melalui sumber tercetak,
ataupun melalui sumber rekaman mekanik. Storytelling dapat menggambarkan
peristiwa yang sebenarnya maupun berupa fiksi serta penggambaran tentang
kehidupan yang dapat berupa gagasan, kepercayaan, pengalaman pribadi,
pembelajaran tentang hidup melalui sebuah cerita. 

Kemampuan
bahasa merupakan salah satu bagian yang
menjadi hal penting dalam kehidupan seseorang,  sebab tanpa bahasa
manusia tidak akan dapat berkomunikasi dengan orang lain, menyampaikan ide,
gagasan pikiran, dan perasaan kepada manusia lainnya baik dalam situasi formal
maupun situasi non formal. Bahasa merupakan sarana dalam berkomunikasi dengan
orang lain dan kemudian terjadilah suatu interaksi. Setiap individu pasti bergaul dan berkomunikasi,untuk mencari
informasi serta mengendalikan pikiran, sikap dan perbuatan dengan menggunakan
bahasa.

Kegiatan
storytelling ini penting untuk dilakukan terutama dalam massa tumbuh
kembang anak. Selain itu, mendongeng juga memiliki manfaat bukan hanya bagi
anak tetapi juga bagi orang yang mendongengkannya. Kegiatan pembelajaran
melalui storytelling, anak akan merasa belajar membaca itu menyenangkan
sehingga kesan pengajaran tidak secara terpaksa.

 

 

 

B.       
Tujuan

Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui sejauhmana kegitan storytelling
ini berlangsung di TK Atsiri Permai sehingga hasil yang diperoleh dari
kegiatan ini memberikan dampak positif bagi anak-anak dalam meningkatan bahasa.
 

 

 

C.      
Metode

Penelitian ini dilakukan pada kelompok TK Atsiri Permai Kecamatan Bojonggede
Kabupaten Bogor Jawa Barat Tahun Pelajaran 2016-2017 dengan jumlah 20 anak yang
terdiri dari 11 anak perempuan dan 9 anak laki-laki. Dalam hal ini peneliti menggunakan metode kualitatif dalam pengumpulan
data. Peneliti melakukan wawancara terhadap 2 guru yang mengajar di TK Atsiri Permai, yaitu dengan Ibu Nina Suyani, S.Pd dan Ibu Nuryaningsih S.Pd. Penelitian ini merupakan
penelitian tindakan kolaboratif, yaitu peneliti bekerjasama dengan guru ke
dalam melaksanakan penelitian. Untuk melakukan analisis data kualitatif ini meliputi reduksi data,
penyajian data, dan penarikan kesimpulan

 

 

 

D.       Hasil

Menyajikan storytelling yang menarik bagi
anak-anak bukanlah suatu hal yang mudah untuk dilakukan. Terlebih lagi
anak-anak hanya dapat berkonsentrasi mendengarkan cerita hanya dalam waktu
singkat, jika waktu mendongeng yang dilakukan terlalu lama akan membuat anak
merasa cepat bosan dan tidak antusias lagi terhadap cerita. Dengan adanya
kegiatan storytelling tentu dapat memberikan pengaruh pada anak.
Pengaruh tersebut dapat berupa pertumbuhan minat baca. Storytelling merupakan
salah satu cara yang efektif untuk mengembangkan aspek-aspek kognitif atau
pengetahuan, afektif atau perasaan, sosial, dan aspek konatif atau penghayatan
anak-anak. Indonesia memiliki keragaman cerita baik dari sejarah, tradisi atau
penggabungan  keduanya dengan berbagai
genre di dalamnya  baik tertulis, lisan
dan e-stroytelling seperti cerita pendek, masa kerajaan, fiksi, non
fiksi, sehingga guru memiliki ketersedian cerita yang banyak.

Pada dasarnya setiap anak pasti sudah memiliki
kemampuan berbahasa lisan pada dirinya
masing-masing, hanya saja hal ini tergantung bagaimana guru menstimulasi
kemampuan tersebut. Sesuai hasil pengamatan dan temuan peneliti selama melakukan pelaksanaan tindakan terdapat beberapa masalah yang menyebabkan
kemampuan berbahasa lisan pada anak masih berada pada kriteria kurang. Setelah diterapkan metode bercerita dengan media audio visual
kemampuan berbahasa lisan anak meningkat dengan cukup baik ini terbukti dari
hasil penelitian berupa catatan lapangan dan hasil wawancara guru, menunjukkan
terjadinya perubahan perilaku anak dalam kemampuan berbahasa secara lisan.
Kemampuan berbahasa lisan anak-anak TK
Atsiri Permai setelah diterapkan metode bercerita dengan media audio visual
mengalami peningkatan baik pada setiap aspeknya maupun pada setiap indikatornya.